Jika dilihat secara geografis, Bandung seperti berada di cekungan yang dikelilingi gugusan pegunungan di seluruh penjuru mata angin. Karenanya, dikenal istilah 'Bandung dilingkung ku gunung' (Bandung dikelilingi gunung).
Rata-rata tinggi gunung baik selatan, utara, timur, maupun barat lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Gunung tertinggi yang menjadi 'pagar' kawasan Bandung Raya adalah Gunung Patuha di selatan Bandung. Gunung Patuha memiliki ketinggian 2.434 mdpl.
Di bekas daerah danau tersebut, berdirilah empat pusat pemerintahan, yaitu Kota/Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Cimahi. Sementara, Kota Bandung dan Cimahi berada di tengah-tengah wilayah administratif Kabupaten Bandung yang membentang dari selatan, utara, barat, hingga timur.
Cerita terbentuknya cekungan bandung dari sebuah danau tak bisa dilepaskan dari legenda Empu Wasesa yang memiliki seorang putri dan dua murid bernama Wira dan Jaka. Kedua murid ini kemudian berebut putri sang guru.
Karena tidak mau mengecewakan keduanya, Empu Wasesa pun membuat sayembara untuk menghentikan lava Gunung Tangkuban Perahu. Hingga akhirnya Wira membendung Sungai Citarum hingga membuat genangan danau purba. Danau ini lama kelamaan surut dan ditinggali masyarakat hingga saat ini.
Sementara perspektif lain mengatakan, kata Bandung berasal dari nama sebuah kendaraan air yang digunakan Bupati Bandung RA Wiranatakusumah II. Kendaraan tersebut terdiri atas dua perahu yang diikat berdampingan, disebut sebagai perahu bandung.
Saat itu, RA Wiranatakusumah II melayari Citarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibu kota yang lama di Dayeuhkolot.