"Seluruh hewan yang terserang penyakit tersebut memiliki ciri-ciri sama, mulai mulut berair liur, kuku kakinya melepuh dan berdarah sehingga, serta puting berdarah," tutur Kadis Perikanan dan Peternakan Garut.
Sofyan Yani mengatakan, para petani yang hewan ternaknya terserang PMK mengalami kerugian secara ekonomi. Kerugian yang diderita yaitu bobot sapi potong menyusut, sementara hasil susu dari sapi perah berkurang.
Dari ratusan hewan yang dipastikan positif PMK, lima diantaranya sudah mati dan kemudian dikubur atau dibakar. Sementata sebagian lainnya oleh para petani ada yang dipotong paksa agar tidak terlalu merugi.
“Agar bisa dikendalikan nanti sumber penyakitnya, kami sarankan petani memotong hewan ternaknya di rumah potong pemerintah. Selain itu juga ada bagian-bagian yang tidak boleh dikonsumsi, mulai jeroan, kepala dan kaki, kalau yang lainnya boleh asal diproses sesuai ketentuan. Mulai direbus dengan air yang sangat panas atau dibekukan dengan suhu yang sangat dingin,” ucapnya.
Selain pemeriksaan, kata Sofyan, Pemkab Garut telah melakukan berbagai penanganan lain Terkait penyebaran penyakit PMK ini. Sejumlah langkah yang telah ditempuh adalah melakukan identifikasi, koordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi, hingga sterilisasi kandang sejumlan peternakan.