Kebijakan Indonesia yang “lunak” terhadap eks-pejuang ISIS justru mengajak dunia untuk memahami hakikat teroris. Arfin menegaskan, tidak ada seorang pun yang ingin terlahir ke dunia sebagai teroris, sehingga orang menjadi teroris adalah sebuah keterpaksaan.
“Tidak ada orang yang menjadi pilihan, sehingga untuk mencegah terorisme lebih baik cegah di akarnya ketimbang batangnya atau daunnya,” kata Arfin.
Arfin berpendapat bahwa pencegahan secara akar dinilai lebih efektif untuk mencegah terorisme. Sayangnya, saat ini, penanggulangan terorisme masih bersifat tradisional atau cenderung menggunakan pendekatan militer. “Tidak ada ujungnya dan hasilnya akan seperti itu,” kata Arfin.