Saat ini, komoditas manggis di pasar lokal hanya dihargai Rp7.000-Rp11.000 per kilogram (Kg). Jepang menjadi pasar potensial, mengingat buah-buahan ini lebih banyak diterima pasar ekspor China, Hongkong, Belanda hingga Perancis. “Kami juga tingkatkan pertanian yang berdaya saing sehingga bisa meningkatkan cadangan devisa,” tuturnya.
Iwa mengaku Pemprov Jabar sudah menyiapkan kesediaan lahan dan berapa banyak tanaman gedong dan manggis. Untuk gedong saat ini tercatat kontribusi terbesar datang dari Majalengka yang mencapai 403.000 pohon, dengan luas lahan 4.033 hektar dan produksi mencapai 325.457 ton per tahun.
“Nilai ekspor mangga gedong baru mencapai 638.136 dolar AS. Di luar Jepang, karena masih belum ekspor manga ke sana,” ujarnya.
Menurutnya, komoditas mangga gedong tersebar di wilayah Indramayu, Sumedang, Majalengka, Kuningan dan Cirebon. Data 2017 menunjukan dari enam wilayah ini kapasitasnya mencapai 2,39 juta pohon, luasan 23.959 hektar dan produksi 325.457 ton. Komoditas mangga gedong sangat diminati pasar ekspor Singapura, Oman, Amerika Serikat hingga Jerman.
“Kontribusi terbesar Majalengka disusul Indramayu yang produksinya 77.474 ton,” ujarnya.
Sementara itu, komoditas manggis dihasilkan oleh lima sentra produksi di Priangan, Tasikmalaya, Bogor, Sukabumi dan Purwakarta. Produksi paling tinggi berasal dari Tasikmalaya yang memiliki 431.000 pohon dan luasan hingga 4.313 hektar. Tasikmalaya menyumbang 45% produksi manggis Jabar setara 28.693 ton. “Lahan di Tasikmalaya masih sangat luas dan cocok untuk budidaya manggis,” tuturnya.
Sampai saat ini manggis merupakan produk ekspor holtikultura terbesar asal Jabar. Rata-rata ekspornya sekitar satu kontainer per bulan."Selain manggis, Jabar pun mengekspor buah mangga seperti jenis arum manis serta sayuran," ucapnya.