“Muhun, Pak. Saya wae ayeuna tos 80 tahun. Pas saya alit oge, mak mah tos rumah tangga. (Iya, Pak. Saya saja sekarang sudah 80 tahun. Waktu saya kecil Mak sudah berumah tangga),” tutur wanita tersebut.
Setelah beberapa saat berjalan sampailah Dedi di depan rumah Mak Altih. Benar saja di depan rumah sudah banyak kardus dan botol bekas yang dikumpulkan oleh Mak Altih.
“Anak mah sudah ngelarang begini, tapi Emak yang maksa. Gak kerasan kalau di rumah terus. Nanti ada yang beli (rongsokan). Mak mah gak pernah hargain (tidak menentukan harga), sedikasihnya saja,” kata Mak Altih.
Tak berselang lama anak bungsu Mak Altih bernama Kartim datang. Kartim tinggal bersebelahan dengan rumah Mak Altih dan kini berprofesi sebagai penjaga SMP.
Menurut Kartim, ibunya itu sudah berulang kali diminta berhenti untuk mencari rongsokan. Namun ibunya keukeuh (kukuh) keluar karena merasa tak kerasan selalu berada di rumah. “Paling sekarang dikumpulin. Nanti saya yang rapihin,” kata Kartim.