"Sebenarnya pernah ada pengusaha yang mendirikan kafe berikut oleh-oleh biji kopi atau kopi giling siap seduh. Tapi tidak berkembang karena di sini belum memiliki destinasi wisata yang menjadi aset kunjungan," ujar Isep.
Sementara itu, Camat Gununghalu Hari Mustika mengaTakan, daya beli masyarakat sekitar yang masih rendah membuat kopi Gununghalu banyak dijual keluar Gununghalu.
Itulah sebabnya terkadang justru ketika datang ke Gununghalu, kopi sulit didapat. Padahal banyak wisatawan yang hendak ke Ciwidey atau Curug Malela melintasi Gununghalu.
"Kami ini (Kecamatan Gununghalu) daerah lintasan. Ada potensi wisata tapi masih harus dikembangkan termasuk daya dukung infrastruktur jalannya," kata Hari.
Dia menyatakan, di Gununghalu, memang baru menjadi sentra produksi dan belum memungkinkan ada semacam resto khusus untuk kopi Gununghalu. Namun sedang dipikirkan upaya agar para pengunjung yang datang ke Gununghalu, kelak bisa mencicipi langsung kopi dari sumbernya.
"Termasuk soal packaging juga kita perhatikan supaya lebih menarik bagi orang untuk beli," ujar Camat Gununghalu. adi haryanto