Suatu ketika, Agus ditugaskan mengambil 12 dus berisi sekitar 12.000 peluru dari kelompok teroris lain di sekitar SPBU Cikopo. “Awalnya saya tidak tahu itu (12.000 peluru) dari mana. Ternyata yang kirim (tokoh teroris) Dulmatin (Djoko Pitono) yang ditembak di warnet (Pamulang, Banten). Dari situ saya kenal banyak tokoh termasuk Dulmatin,” ujarnya.
Agus membawa amunisi tersebut ke pos tempat kelompoknya berkumpul. Pos tersebut sebelumnya adalah kandang kambing di sekitar rumah Agus.
Singkat cerita Agus memerintahkan salah seorang untuk membawa dus berisi peluru itu ke Aceh. Saat pengantaran itulah polisi menangkap anak buahnya. Agus yang panik kemudian memindahkan amunisi itu ke Cikampek.
“Waktu itu logistik (amunisi) kami pindahkan ke Cikampek di rumah Yayat yang kemarin bom panci di Bandung. Itu binaan saya, sepengajian. Logistik di situ. Kemudian disuplai tujuan ke Aceh,” tutur Agus.
Polisi yang melakukan pengembangan kasus bom panci Bandung, akhirnya menangkap Agus di Kawasan Industri BIC Purwakarta. Saat itu dia menyamar sebagai pekerja pemasangan instalasi atap baja salah satu pabrik. “Saya sudah tahu diawasi (polisi). Sempat mau pindah (kerjaan). Qodarullah memang jalannya seperti itu (ditangkap),” ucapnya.