Kisah Agus Marshal, Eks Napi Terorisme Jaringan Aceh, Mentor Pelaku Bom Panci Bandung
“Sekarang ada 13 orang yang tinggal di rumah, mulai anak, menantu, sampai cucu. Anak ada yang di-PHK. Kemudian menantu kerja serabutan. Tapi alhamdulillah rezeki ada saja. Istri juga bantu-bantu dari hasil laundry,” kata Agus saat berbincang dengan Dedi Mulyadi
Agus menceritakan awal mula dia bergabung dengan jaringan teroris Aceh hingga akhirnya menjadi puncak pimpinan atau Amil dalam jaringannya. Saat itu, dia bekerja sebagai buruh pabrik, sering mengikuti pengajian umum di Cikampek.
Dalam pengajian tersebut, Agus berinteraksi dengan sejumlah orang hingga akhirnya terjadi diskusi. Perlahan Agus pun meninggalkan pengajian itu dan mulai rutin berdiskusi dengan sekitar 10 hingga 12 orang yang sepemahaman dengannya.
“Dari situ kami mulai pemahaman itu ambil sikap jelas. Kami kontra dengan ideologi pemerintah, dengan hukum. Bahasanya kita luruskan, tapi di lapangan kan beda. Jadi antara dakwah dan kepentingan politik itu yang berkembang,” kata Agus yang kemudian dipercaya menjadi pimpinan kelompok.
Akhirnya, Agus terlibat dalam program pelatihan militer teroris di Aceh. Agus mendapat tugas mengelola suplai senjata, amunisi, dan merekrut peserta pelatihan militer di Aceh.