NZV kemudian memulai pelayanannya di wilayah Cianjur berawal dari sebuah keprihatinan terhadap kondisi dan keberadaan komunitas orang Kristen pribumi (orang sunda) yang tersebar di wilayah Batavia (sekarang Jakarta), Depok, Jatinegara, Kampung Sawah, Gunung Putri, Cikembar, dan Cigelam.
Komunitas Kristen Sunda ini mengalami diaspora akibat intimidasi, penganiayaan, bahkan pembunuhan. NZV lalu mengutus B.M. Alkena untuk mencari lahan yang cocok untuk pemukiman sekaligus untuk pertanian.
Upaya pencarian lokasi dimulai di wilayah Karesidenan Cianjur. Bantuan diperoleh dari seorang pembantu bupati Cianjur, atau Wedana yang bernama Sabri disertai oleh tujuh orang yang telah dihimpunkan kembali yaitu: Miad Aliambar, Jena Aliambar, Hasan Aliambar, Akim Muhiam, Naan Muhian, Yusuf Sairin dan Elipas Kaiin.
Ketujuh orang ini kemudian disebut generasi perintis berdirinya kampung Palalangon. Upaya pencarian pemukiman cukup lama dengan menyusuri aliran sungai Cisokan dan sungai Citarum.
Dalam pencarian tersebut, rombongan sempat terperosok ke sebuah tebing di pinggir aliran sungai Citarum (tepatnya di daerah Leuwi Kuya).