“Itu digital, poinnya hubungan dengan PMI kuasai ilmu digitalnya sebagai edukasi. Bikin seminar telemedicine agar semua PMI paham. adi kalau yang memimpin PMI tidak mahir menggunakan teknologi digital, maka akan tergerus zaman,” katanya.
Kang Emil juga berpesan agar digitalisasi dihadirkan oleh para relawan dan pengurus PMI. Salah satunya terkait penyebaran informasi mengenai stok darah yang sering kali menjadi permasalahan dasar di masyarakat.
“Nantinya apabila yang ingin donor darah, bisa diaplikasikan dengan 4.0 melalui e-commerce sehingga seluruhnya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dia meyakini apabila digitalisasi tersebut hadir di tengah masyarakat, tidak akan ada lagi masyarakat yang mengalami kebingungan saat keluarganya mencari stok darah di PMI.
“Poinnya untuk PMI. Harusnya ketika orang yang mau ngecek stok darah ada aplikasinya, agar terdata bagi masyarakat dan tidak mengalami kebingungan. Itulah transformasi digital, tidak mengubah bentuk kerja, tapi bisa terselesaikan dengan baik,” katanya.
Ridwan Kamil juga meminta perwakilan PMI kabupaten/kota se-Jabar yang hadir pada Musprov ini dapat mengimplementasikan penggunaan teknologi digital di daerahnya.
“Tolong yang kabupaten/kota bisa menerjemahkan dalam kearifan masing-masing, dalam keterbatasan juga, itulah fundamental kita. Mudah-mudahan organisasi ini menjadi juara se-Indonesia,” katanya.