Kemudian mereka melakukan isolasi mandiri di rumahnya bersama anggota keluarga lain. Kondisi itu dialami Yaya dan Atik satu minggu lalu. "Yaya meninggal pukul 14.00 dan atik meninggal satu jam kemudian, pukul 15.00 WIB," kata Edi Junaedi.
Edi menyatakan, sejak Yaya dan Atik positif terpapar Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri, telah berusaha agar mendapatkan perhatian dari pemerintah Keluarhan Sirnagalih. Tetapi permintaan tidak mendapatkan tanggapan.
"Saya kemaren lapor ke pak lurah namun tidak ditanggapi. Kemudian laporan lagi saat adik dan kakak ini meninggal juga tidak ada tanggapan. Karena tidak ditanggapi, akhirnya saya lapor ke salah satu anggota DPRD Kota Tasikmalaya. Anggota DPRD kemudian menelepon pak lurah dan petugas kesehatan Kecamatan Indihiang. Alhamdulillah kemudian bergerak," ujar Edi.
Dalam rumah korban Yaya dan Atik, tutur Ketua RW 05, terdapat enam orang lain. Lima di antaranya dinyatakan positif setelah dilakukan tes swab, termasuk ibu, bapak, serta bibi korban. Sementara adiknya masih belum dilakukan tes swab karena alatnya habis. "Semua keluarga yang positif sudah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani isolasi," tutur Ketua RW 05.
Edi meminta agar keluarga terdekat almarhum yang belum tes swab PCR segera dilakukan pengecekan oleh petugas kesehatan untuk memastikan kondisi mereka. Termasuk warga lain di sekitar tempat tinggal Yaya dan Atik, agar mereka tidak resah.
Almarhum Yaya dan Atik dilakukan pemulasaraan secara protokol kesehatan Covid-19. Kedua dimakamkan di tempat pemakaman umum, tak jauh dari rumah keluarga.