Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), pada tahun 2020, ekonomi kreatif memiliki kontribusi yang tinggi bagi produk domestik bruto (PDB) dimana dari 16 subsektor ekonomi kreatif, tiga subsektor yakni fesyen, kuliner, dan kriya menjadi penyumbang terbesar struktur PDB dan ekspor produk ekonomi kreatif ke mancanegara.
Merujuk pada data BPS dan Kemenparekraf, kata Lusi, kontribusi tiga subsektor tersebut, yakni sebesar 41 persen untuk kuliner, 17 persen untuk fesyen, dan 14,9 persen untuk kriya.
"Tak bisa dipungkiri lagi, jika merujuk kepada data, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mengalami kontraksi sebesar 4,08% year-on-year (yoy). Oleh karena itu, mau tidak mau, upaya untuk menggerakan perekonomian Jawa Barat salah satunya dengan mendorong perkembangan ekonomi kreatif," tutur Lusi, Sabtu (10/4/2021).
Menurut Lusi, Gelar Produk Ekonomi Kreatif 2021 merupakan bagian upaya Pemprov Jabar dalam hal ini Disparbud Jabar untuk mendukung pemulihan ekonomi Jabar melalui peningkatan kapasitas, pemberdayaan dan dukungan usaha kepada para pelaku usaha ekonomi kreatif di Jabar yang dikemas melalui kolaborasi dari pentaheliks ekonomi kreatif.
"Pemerintah Provinsi Jawa Barat tentunya tidak bisa sendirian dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi khususnya dari bidang ekonomi kreatif ini. Untuk itu, kita berkolaborasi dengan menggandeng pentahelix meliputi kalangan akademisi, pelaku usaha, penyedia modal dalam hal ini perbankan, dan perusahaan yang peduli dengan menyediakan program CSR untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha ekonomi kreatif," paparnya.