"Ada yang menarik ya di desa ini. Ada anak muda, generasi milenial yang menggerakkan para petani. Mereka siap membuat pabrik teh dengan produk teh premium atau special tea. Tentu ini contoh konkret bagaimana kita melakukan hilirisasi pertanian yang kami harapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Ini keren," kata Ganjar Pranowo.
Ganjar menyatakan, gram ini berhasil,pabrik teh premium itu dikelola bekerja sama dengan Kodesi, koperasi desa binaan Papdesi. Jika pro bisa diterapkan dan dikembangkan di desa-desa lain di seluruh Indonesia.
"Sangat mungkin dikembangkan di desa lain, tentu dengan unit usaha dan kearifan lokal masing-masing. Kalau semua bisa melakukan itu, maka bisa kita bayangkan betapa besarnya pendapatan yang dihasilkan. Ini bagian dari hilirisasi produk pertanian yang kita inginkan dan endingnya cita-cita kita mewujudkan kedaulatan pangan bisa tercapai," ujar Ganjar Pranowo.
Namun semua itu, tutur Ganjar bukan lah pekerjaan mudah. Pemerintah harus turun tangan dan mendorong agar program-program itu bisa berjalan. Selain terus melakukan pendampingan, pelatihan, dan memberikan kemudahan terhadap akses modal, pemerintah juga harus menjadi offtaker dari produk yang dihasilkan.
"Kalau mereka sudah jalan dan berproduksi, pemerintah yang harus menjadi offtaker-nya. Masukkan semua produk ini ke e-katalog dan wajibkan kementerian lembaga hingga pemerintah daerah untuk membeli. Jadi misal ada acara atau menyambut tamu kenegaraan, suguhannya teh spesial hasil karya petani milenial di Cianjur ini," tutur Ganjar.