“Jadi apa yang dialami, apa yang terjadi itu bagian dari hidup untuk terus diasah. Ya gak apa-apa, nikmati, tetap senyum, tetap rileks, santai, fokus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Karena, pemimpin itu tidak mengurusi urusan pribadi,” tuturnya.
Kang Dedi menjelaskan alasannya datang ke PA Purwakarta. Sebenarnya, dia tidak mau datang ke tempat tersebut karena bertentangan dengan hati. Namun karena kewajiban undang-undang, maka Kang Dedi hadir.
Dia mengatakan, alasan datang menggunakan angkot, padahal punya mobil Alphard putih. Minimal, kata Dedi, perjalanan menuju tempat tersebut dia bisa mendapatkan hikmah kehidupan dan membawa manfaat bagi orang lain.
“Pertama anak-anak sekolah minimal hari itu saya bayarin (ongkos), dan ada satu yang saya bekelin. Kemudian sopir angot mendapat keberkahan, minimal dia dua minggu tidak perlu nyupir pendapatan masih aman,” ucap Kang Dedi.
“Minimal ada satu keluarga yang terkompensasi mendapat kebahagiaan. Begitu juga pulangnya ada penumpang yang dibayarin dan ada sopir yang beberapa hari ke depan satu keluarga terbahagiakan. Ya mudah-mudahan ada dua keluarga sopir angkot yang mendapat kebahagiaan di hari itu,” ujarnya.
Kang Dedi menyadari meski bukan kepala daerah, namun kehadirannya sebagai anggota DPR bisa mewakili perasaan mereka. “Walaupun saya tidak bisa memberi lebih banyak minimal dalam beberapa hari mereka (sopir angkot) bisa bahagia. Itu lah kehidupan,” tutur Kang Dedi.
Menurut Kang Dedi, hidup bukanlah untuk diri sendiri melainkan juga orang lain. “Menghormati itu lebih baik daripada ingin dihormati. Kita berdiri itu jauh lebih baik daripada sekadar duduk. Kita mengulurkan tangan jauh lebih baik dibanding dengan selalu diberi uluran tangan. Jadi kita tidak akan rugi melakukan sesuatu yang terhormat,” ucapnya.