Sehingga warga sulit untuk membeli kebutuhan sehari-hari. "Dulu ke pasar terdekat sekitar empat kilometer. Akses jalan pun belum bagus," ujarnya.
Melihat kondisi itu, pemerintah desa kemudian memanfaatkan modal Rp150 juta untuk membangun 48 kios. Pasar itu kini semakin berkembang sehingga terdapat 150 kios yang disewakan per 10 tahun sekali. Selain dari sewa kios, BUMDes Niagara juga menerima pendapatan dari retribusi.
Koperasi simpan pinjam yang menyasar pedagang dan warga sekitar sebagai nasabahnya juga berkembang dan membukukan laba signifikan. Bahkan, hingga saat ini keuntungan terbesar berasal dari simpan pinjam yang telah memiliki sekitar 3.000 nasabah, termasuk dari desa lain.
Kendati begitu, mengelola BUMDes Niagara bukan tanpa persoalan. Neneng mengakui pihaknya masih kesulitan ketika mengembangkan unit usaha jual beli produk kerajinan.
Terutama dalam membuka pasar untuk menjual hasil produksi warga sekitar seperti sandal, sepatu, dompet, dan tas. "Pemasarannya masih sangat terbatas. Padahal dengan menjual produk-produk itu, kami ingin lebih memberdayakan masyarakat," tutur Neneng.