Sebab, pada satu kesempatan bisa saja timbulkan kerumunan. Seperti saat mengantre atau menikmati salah satu destinasi di objek wisata tersebut.
Di Desa Cikole, ujar Jajang, terdapat beberapa objek wisata yang sudah banyak dikenal secara nasional maupun internasional. Seperti, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkubanparahu, Orchid Forest, Cikole Jayagiri Resort, Terminal Wisata Grafika Cikole, Rest Area Pal 16, Sundaland, Kopi Gunung, dan masih banyak lagi.
"Bayangkan kalau tempat-tempat itu tidak ditutup, wisatawan lokal, nusantara, atau mancanegara pasti akan datang, terutama saat akhir pekan. Apakah ada jaminan mereka semua sehat? Bisa jadi orang tanpa gejala, yang bisa menularkan virus," ujar Jajang.
Karena itu, Kepala Desa Cikole menekankan ke pemerintah provinsi, kabupaten, dan pemilik usaha wisata agar disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes). Jangan sampai pemeriksaan suhu tubuh dan wajib mengenakan masker di pintu masuk hanya formalitas.
Sedangkan pengawasan di dalam kawasan objek wisata tidak ada. Sehingga orang masih berkerumun dan banyak tidak disiplin memakai masker.
"Prosedur itu kan untuk keselamatan bersama. Jadi jangan main-main. Kami akan bantu sosialisasinya, dan mendorong vaksinasi ke para pelaku wisata," tutur Kades Cikole.