Rupanya Dedi pergi dari lokasi tersebut untuk berbelanja kebutuhan bahan pokok dan sejumlah perangkat sekolah mulai dari tas, buku hingga sepatu.
“Ini peristiwa yang paling membekas di hati saya tentang kesetiaan dan kesederhanaan seorang ibu yang mencintai anak-anaknya. Kemiskinan tak membuat rasa empatinya hilang pada sesama. Kesungguhan pada pendirian tidak membuat dia tergoda dengan uang,” ujar Dedi.
Setelah berbelanja Dedi kembali menemui Ijoh dan anak-anaknya untuk memberikan kebutuhan pokok dan seperangkat alat sekolah. Salah satu yang diberikan adalah buku bergambar Dedi Mulyadi menggunakan pangsi dan iket yang menjadi ciri khasnya. Sontak buku tersebut langsung dipeluk dan diciumi oleh Ijoh.
Saat Ijoh meneliti buku tersebut terdapat kemiripan dengan sosok pria yang ada di depannya. Ijoh pun meminta pria tersebut untuk membuka jaket dan penutup kepala. Namun pria yang sebenarnya Dedi Mulyadi itu mengelak dan malah meminta anak-anak untuk mencoba langsung sepatu yang baru dibeli.
Tak lama Dedi meminta diantar ke kandang untuk mengambil domba yang tadi telah dibeli. Namun Ijoh tetap fokus dan berkeyakinan jika orang di depannya adalah Dedi Mulyadi.