Kejayaan nanas dari Cikalongwetan saat itu ditopang oleh akses Jalan Raya Cikalongwetan yang masih menjadi akses utama penghubung dari Padalarang ke Jakarta melalui Purwakarta ataupun sebaliknya. Saat itu Tol Cipularang belum ada, sehingga banyak pengguna kendaraan yang melintas di kawasan ini.
Seiring makin terkenalnya nanas khas Cikalongwetan, pemerintah kemudian membuka perkebunan besar di Desa Mandalamukti guna memenuhi kebutuhan pasar. Warga pun diperbolehkan menggarap lahan PTPN VIII atau milik Perhutani. Bahkan untuk menandai ke perkebunan dibuatlah Tugu Nanas sekaligus gapura masuk ke kawasan tersebut.
"Dulu di daerah Cikalongwetan ada rest area di kawasan Cihamerang dan Warung Jati. Di sana banyak jongko Nanas, Peuyeum, dan oleh-oleh hasil bumi lokal lainnya," ujar Ii.
Atang (52), warga Mandalamukti mengatakan, masih ingat ketika sering membantu orang tuanya menjual nanas. Selain dijual di warung di pinggir jalan, nanas juga diambil bandar untuk diedarkan di Pasar Dulatip atau Pasar Baru Kota Bandung saat ini. "Kalau lagi musim panen, sering bantuin orang tua jualan dan bawa nanas dari kebun," kata Atang.
Menurut Atang, keruntuhan nanas Cikalongwetan mulai terjadi ketika Tol Cipularang selesai dibangun. Akibatnya, Jalan Raya Cikalongwetan jadi sepi. Dampaknya, banyak petani yang gulung tikar dan menjual benih nanas ke Subang.
Apalagi di sana dibuka perkebunan nanas skala besar dengan didukung pemerintah. "Ya sekarang di sini jadi hilang ciri khasnya, apalagi regenerasi juga gak ada," ujar Atang.