Tak lama kemudian, seorang nenek tua datang ke kediaman Pak Kikir ketika pelaksanaan tradisi Kenduri tersebut berharap untuk mendapatkan sedikit makanan untuk bertahan hidup, namun lagi-lagi, Pak Kikir menolaknya dan memaki sang nenek tua. Anak pak Kikir menyaksikan peristiwa tersebut secara diam-diam, dan kemudian menghampiri nenek tua untuk memberikannya makanan.
Sontak, nenek tua tersebut berterima kasih kepada sang anak dan mendoakannya serta memberikan pesan untuk bersiap agar segera pergi dari desa pada malam hari ketika hujan mulai turun, mengajak seluruh warga desa dan diinstruksikan untuk tidak beri tahu siapapun sebelum malam tiba.
Ketika malam tiba, seluruh warga desa mendengar seruan anak dari Pak Kikir untuk meninggalkan desa. Namun, Pak Kikir yang tidak rela meninggalkan harta melimpahnya di desa, tetap bersikeras untuk diam di rumahnya.
Hujan pun makin lebat dan membanjiri seluruh permukaan desa. Volume air hujan yang makin besar akhirnya menyeret Pak Kikir dan juga menenggelamkan rumahnya. Keesokan harinya, dari atas bukit seluruh warga desa menyaksikan permukaan desa yang telah hilang menjadi danau.
Pada akhirnya warga desa mencari lahan untuk membangun ulang permukiman dengan anak Pak Kikir yang dipilih untuk memimpin desa tersebut dengan berbagai peraturan dan anjuran untuk menyejahterakan warga desa. Desa tersebut kemudian menjadi makmur dengan sawah-sawah yang subur dan saluran irigasi.
Desa tersebut dikenal dengan sebutan “Anjuran” karena warga desa yang mematuhi anjuran pemimpinnya. Ditambah lagi adanya sistem irigasi yang baik, desa tersebut kemudian bernama “Cianjur” di mana dalam bahasa Sunda, “ci” artinya air.
Itulah asal usul Kota Cianjur yang memiliki luas wilayah sebesar kurang lebih 350.000 hektare yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor, Bandung, dan Sukabumi, serta Kabupaten Purwakarta di bagian utara.