“Tingginya, kalau ukuran kita mah masih di atas kepala. Tapi kalau orang Belanda mah mungkin merunduk. Kondisi bangunan mah masih bagus, termasuk pintu. Tapi sayang, banyak tangan-tangan nakal, akhirnya dinding-dindingnya ramai tulisan,” katanya.
Sebelum Pamdemi Covid-19, ujar dia, Bungker tersebut sempat jadi alah satu tujuan objek wisata sejarah di sekitar Majalengka Kota. Beberapa pelajar, tercatat pernah berkunjung ke Bungker itu.
“Setelah dihajar pandemi, ya begini lagi. Kami dari Grumala sempat bikin papan nama di pinggir jalan. Untuk akses ke sini, memang masih belum terbuka secara leluas,” ujar dia.
Terkait pembangunan sendiri, kata Naro, berdasar keterangan warga yang menjadi saksi pembuatan Bungker, terdapat kisah menggelitik. Saksi sendiri sata ini usianya mendekati 100 tahun.
“Mereka yang bekerja untuk membangun ini, sebenarnya ada gaji yang disediakan. Namun, tidak sampai ke tangan mereka. Bapak itu, yang saksi itu nyebutnya ‘Gajinya dicatut.’ Kalau istilah sekarang mah, dikorupsi mereun. Ya info catut itu, udah tersebar di kalangan pekerja saat itu, tapi nggak berani nanya,” ucap dia.