Dia pergi dari rumah pagi-pagi sekali setelah sebelumnya menemui pengrajin gula aren yang ada di kampung. Setelah mendapat gula aren yang dibutuhkan kemudian barang dagangannya itu digendong dengan kain. Perjalan pun dimulai dengan menyusuri jalan kampung yang rusak. Sepanjang perjalanan dia acapkali menawarkan gula kepada warga di sepanjang jalan. Terkadang banyak warga yang membeli, tapi tak jarang pula dagangannya tidak laku.
"Paling Mak bawa 20 bungkus untuk dijajakan di sepanjang jalan. Kadang habis kadang juga enggak," ujarnya.
Sore harinya Mak Iyom kembali ke rumah dengan menyusuri jalan yang sama. Dia akan berusaha sampai di rumah sebelum waktu gelap. Sebab kalau kemalaman di jalan bisa repot karena minimnya lampu penerangan jalan.
Terkait viralnya peristiwa penyitaan gula aren, Mak Iyom mengakui pernah bercerita tentang kejadian itu ke beberapa langganannya. Akan tetapi dirinya tidak menyangka akan diunggah di media sosal atas curhatannya tersebut. Bahkan, persitiwa itu menjadi viral di media sosial.