Peluru bebelokan bisa menggunakan buah takokak dan kertas yang direndam air. Setelah kedua ujung laras diisi peluru, pelatuk mendorong peluru di pangkal laras itu ke depan.
Tekanan udara di dalam laras membuat peluru di ujung terlontar. Seiring terlontarnya peluru, terdengar suara beletok. Karena itu, mainan jadul ini dinamai bebeletokan.
Anak-anak biasanya memainkan bebeletokan secara berkelompok. Tidak hanya saat memainkan, dalam proses mencari bambu dan membuatnya pun berkelompok. Merekan membuat mainan itu bersama-sama.
Setelah jadi, anak-anak membentuk dua kelompok yang diskenariokan sebagai pasukan penjajah Belanda dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Mereka berpencar dan mencari tempat berlindung.
Keseruan akan tercipta saat mereka menembakkan peluru dari bebeletokan. Walaupun tidak sakit atau melukai, tetapi peluru bebeletokan tetap membuat anak yang terkena merasakan sedikit perih.
Seusai bermain bebeletokan, anak-anak tertawa gembira. Mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mandi dan berangkat mengaji di musala.