Aktivitas Komunitas Hong berawal dari keresahan semakin tergerusnya permainan anak tradisional oleh mainan modern, seperti Play Station dan Nintendo.
Apalagi sekarang, pemainan modern bisa dimainkan menggunakan gadget, seperti handphone, tablet, dan laptop. Akibatnya, anak-anak tercabut dari akar sosial mereka.
Anak-anak yang telah "tenggelam" dalam permainan modern memiliki sifat yang cenderung lebih egois dibanding generasi era 1980-90-an. Anak-anak sekarang asyik dengan dunianya sendiri dan tidak terasah dalam bersosialisasi.
Karena itu lah, komunitas Hong berusaha menghidupkan dan memasyarakatkan kembali permainan anak tradisional. Berdasarkan penelitian, permainan anak tradisional selain memiliki nilai filosofi dalam, juga mengajarkan tentang kemandirian, empati, simpati, dan mengasah soft dan life skill. Selain itu, membentuk karakter positif anak.
Sebab, sebagian besar permainan tradisional dimainkan secara bersama-sama. Tak ada permainan tradisional yang dimainkan sendiri. Tidak asyik jika permainan tradisional dimainkan seorang diri. Contohnya bebeletokan. Mainan ini akan lebih asyik dimainkan bersama teman-teman.