Sementara itu, oeneliti gempa Eko Yulianto mengatakan, untuk memantau Sesar Lembang sepanjang 29 kilometer yang membentang dari Lembang, KBB hingga Jatinangor, Sumedang itu diperlukan 10 alat seismograf dengan posisi lima di sebelah Utara sesar dan lima di selatan. Itu jumlah minimal untuk bisa mendeteksi jika ada pergerakan.
Meski baru ada tiga alat pendeteksi getaran, BRIN akan menggabungkan dengan alat deteksi yang sudah ada. Seperti milik PVMBG, ITB, dan BMKG. Sehingga kehadiran observatorium ini diharapkan jadi titik balik perubahan paradigma bahwa bencana tak hanya jadi ancaman, tapi juga nilai positif bagi upaya mitigasi, riset, wisata.
"Nantinya sebagai sarana pendidikan lokal dan internasional, Observatorium Sesar Lembang menjadi kedua di dunia setelah Observatorium San Andreas di Amerika Serikat," kata Eko Yulianto.
Diberitakan sebelumnya, pembangunan Observatorium Sesar Lembang juga melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Observatorium ini sangat penting untuk mendukung riset dan inovasi mitigasi bencana kegempaan di wilayah Bandung Raya.
Dikutip dari rilis resmi ITB dalam laman itb.ac.id, Ketua Tim dari Kelompok Keahlian Geofisika Global (KK GG) Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB Endra Gunawan mengatakan, ITB menjadi bagian dari tim kolaborasi tersebut, sebagai bagian dari peneliti kebumian di Indonesia juga sebagai upaya untuk dapat memahami lebih baik lagi terkait sains potensi bahaya dan risiko gempa bumi dari Sesar Lembang.