Setelah pembangunan ibu kota baru selesai, terbit besluit pemerintahan Hindia Belanda pada 25 September 1810. Kemudian Kota Bandung dinyatakan sebagai ibu kota Kabupaten Bandung, sehingga setiap 25 September ditetapkan sebagai hari jadi Kota Bandung yang selalu diperingati hingga saat ini.
Dalam buku berjudul “Vereeniging Toeristen Verkeer Batavia (1908-1942): Awal Turisme Modern di Hindia Belanda” karya Achmad Sunjayadi yang diterbitkan pada 2007, menjelaskan, julukan Paris van Java memiliki kaitan yang erat dengan perkembangan pariwisata di Hindia Belanda.
Melalui kegiatan wisata, Pemerintah Hindia Belanda ingin menunjukkan kemajuan yang diberikan kepada negeri jajahan di mata dunia sekaligus menambah pemasukan baru.
Mereka menjuluki kota-kota di Indonesia dengan nama tempat yang populer di Eropa. Pemerintah Hindia Belanda juga mengikuti pameran pariwisata di sejumlah negara yang semakin membumikan julukan tersebut, seperti di London (1851, 1862), Paris, (1855, 1867, 1878, 1889, 1900), Wina (1873) dan utamanya di Exposition Universelle di Paris (1889) yang menampilkan Le Village Javanais (Kampung Jawa) dengan pertunjukan kesenian Sunda.
Bandung sebagai Paris-nya Pulau Jawa muncul karena menjadi pusat gaya busana. Saat itu, gaya fesyen Bandung sangat Paris. Pada era 1900, terdapat toko bernama Aud di Jalan Braga. Toko tersebut merupakan tempat bagi warga Bandung yang ingin tampil kekinian. Tahun 1913, Aug berganti nama menjadi Au Bon Marche Mode Magazijn yang berasal dari bahasa Perancis. Model busana terbaru dari Paris akan selalu dipajang di toko ini.