Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H, Tafsir Surat Al Lail]
Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya,
”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[Latho-if Al Ma’arif, hal. 394]
Puasa Syawal dapat membantu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT. Dengan menahan diri dari makan dan minum, seseorang dapat memperkuat kontrol diri dan memperdalam hubungannya dengan Allah SWT.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW menjanjikan pahala besar bagi orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal. Nabi bersabda bahwa orang tersebut akan mendapatkan pahala seperti pahala puasa satu tahun penuh, dan akan diberikan hadiah Surga sebagai balasannya.