Menristek berharap dengan kehadiran rektor asing itu, para mahasiswa Uiversitas Cyber Asia juga tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negeri di Asia. Bahkan, saat ini, sudah ada permintaan agar mahasiswanya bisa dari luar Indonesia.
“Ada permintaan mahasiswa bisa dari Asia Tenggara sendiri, Asia Barat, maupun di Afrika. Ini yang ada permintaan dan mudah-mudahan bisa jalan,” katanya.
Dia juga menargetkan rektor asing akan menjabat di Perguran Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia tahun 2020 mendatang. Namun, saat ini pemerintah masih harus melakukan sejumlah perubahan dalam regulasi tentang pemilihan rektor di dalam negeri.
“Harapan saya, mereka bisa berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas, jadi bukan lagi kita berpikir masalah penjajahan. Engga ada di dunia pendidikan tinggi, di dunia mana pun seperti itu. Semua pendidikan tinggi di dunia selalu berkolaborasi,” katanya.