Bekerja sebagai pencuci mobil membuat Ajik Krisna bisa mengumpulkan Rp150.000 per bulan. Uang itu dia gunakan untuk membeli motor Honda 70. Dengan motor itulah dia pergi ke Denpasar untuk mencari kerja.
Ajik Krisna akhirnya diterima bekerja di usaha konveksi Sidarta.
"Itu satu-satunya saya pernah bekerja. Saya tinggal satu tempat dengan ownernya," katanya.
Bekerja di konveksi Sidarta menjadi awal segalanya. Dari tenaga serabutan yang hanya tamatan SMP, Ajik Krisna perlahan belajar menyablon, memotong, dan menjahit. "Hanya enam bulan saya sudah bisa," katanya.
Kepercayaan yang diberikan Sidarta sebagai atasan di usaha konveksi itu membuat Ajik Krisna memulai usahanya yang akhirnya berkembang pesat hingga menjadi retail terbesar di Bali.
Satu pesan yang diingat Ajik Krisna dari Sidarta adalah ketika mantan bosnya itu mengatakan dirinya akan menjadi orang sukses. Sidarta kini menjadi orang tua angkat sekaligus guru spiritualnya.