"Di bulan Juli ini kita sudah menerapkan sistem tukar sampah plastik dengan beras. Hasilnya tercatat ada 523,5 kg sampah plastik dengan jumlah beras yang ditukarkan seberat 252 kg," katanya.
Dia mengatakan, selama masa pandemi yang berjalan tiga bulan ini, jumlah sampah plastik di Banjar Pesalakan mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan pemulung tidak diperbolehkan masuk ke wilayah mereka selama pandemi.
"Kalau dibilang peningkatannya standar saja karena COVID ini biasanya rutin diambil oleh pemulung. Tapi sekarang sejak ada ide ini, masyarakat tidak bergantung pada pemulung dan bisa belajar memilah plastik sendiri dan menghasilkan daya tukar lebih tinggi," katanya.
Menurutnya peningkatan sampah plastik paling banyak berasal dari sampah rumah tangga dan dari warung-warung. Untuk satu warung saja bisa menghasilkan 26 kg sampah plastik yang sudah terkumpul selama tiga bulan.
Selanjutnya sampah plastik yang sudah terkumpul akan diserahkan kepada salah satu donatur penggiat sampah asal Sukawati, Kabupaten Gianyar untuk diolah menjadi barang daur ulang yang berguna.
"Ke depan masyarakat agar berkelanjutan dan bisa melihat sampah ini ada nilainya dengan memilah dan tidak membuang sampah sembarangan serta tidak dibakar," katanya.