Di zona ini slab lempeng samudra Indo-Australia “mulai” menunjam dan menekuk ke bawah lempeng benua Eurasia di Selatan Bali dan disinilah patahan itu terjadi. Karena patahan batuan terjadi di zona sumber gempa di luar zona subduksi (outer rise).
Gempa signifikan yang bersumber di zona outer rise Bali tidak hanya saat ini saja terjadi. Sebelumnya zona outer rise Bali pernah mengalami gempa signifikan sebanyak 3 kali, yaitu (1) pada 9 Juni 2016 dengan magnitudo 6,0 (2) pada 17 Maret 2017 dengan magnitudo 5,3 (3) pada 9 Juni 2019 dengan Magnitudo 5,1 dan pada 19 Maret 2020 Magnitudo 6,3.
“Dengan meningkatnya aktivitas gempa di zona outer rise selatan Bali saat ini, kita patut waspada dan tidak boleh abai, karena zona sumber gempa ini mampu memicu gempa besar dengan mekanisme turun sehingga dapat menjadi generator tsunami,” paparnya.
Salah satu contoh gempa dahsyat yang bersumber di zona outer rise di Indonesia yang pernah memicu tsunami mematikan adalah zona outer rise di selatan Sumbawa. Sumber gempa ini memicu Tsunami Lunyuk, Sumbawa, pada 19 Agustus 1977.
“Saat itu gempa dahsyat M 8,3 yang oleh para ahli gempa populer disebut sebagai “The Great Sumba” telah memicu terbentuknya patahah dasar laut dengan mekanisme turun sehingga memicu terjadinya tsunami setinggi sekitar 8 meter dan menewaskan lebih dari 300 orang,” kata Triyono.
Dampak gempa susulan itu berupa guncangan dirasakan di Lombok Barat, Mataram, dan Bali selatan dalam skala intensitas II-III MMI dimana getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Sementara itu, hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.