Mayoritas pedagang justru memilih tak membuka kios karena enggan mengalami kerugian karena tingginya biaya operasional. Para pedagang yang sebagian besar merupakan masyarakat lokal Kuta mengaku dilema dengan situasi ini.
Sudah berbulan-bulan mereka tak memiliki pemasukan karena selama ini hidupnya hanya bergantung dari sektor pariwisata. Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista mengatakan, pemberlakukan sitem ganjil-genap
"Ganjil genap itu untuk protokol kesehatan dan sesai dengan bendesa adat," ucap Wayan Wasista.
Sementara, para pedagang mangaku pasrah dengan kondisi ini. Di sisi lain para pedagang mengaku beban pengeluarannya semakin bertambah lantaran harus menyiapkan perlengkapan protokol kesehatan seperti penyediaan tempat cuci tangan. Padahal mereka belum mendapatkan pelanggan.
"Ini enggak ada pembeli sama sekali. Tamu satu dua itu cuma lewat," katanya.