“Perpaduan gegebug selonding dan pola kekendangan palegongan yang sudah tercipta menjadi sebuah inti sari referensi dalam acuan pengembangan pada penggarapan karya ini, sehingga menjadi sebuah formulasi kompleks dalam karya gamelan inovatif yang berjudul Gema Abyakta Dakara,” tutur Suyoga.
Garapan ke-3 oleh komposer Putu Diky Wahyu Arjaya. Pada garapan ini, komposer mengajak semua pendengar karya untuk ikut larut dalam nuansa yang ingin dibangun tentang bagaimana orang tua yang membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Garapan yang berjudul 'SUNDIH ASIH' berisi untaian melodi yang dijalin sedemikian rupa demi menggambarkan bagaimana lembutnya kasih sayang seorang ibu. Kemudian, bagaimana ketegasan seorang ayah digambarkan lewat hentakan ritme yang diatur sedemikian rupa, serta tidak lupa pula dinamika yang dibangun sebagai pengejawantahan rasa terima kasih sang anak kepada orang tuanya,” ujar Diky.
'Kenang-kunang' menjadi garapan terakhir yang ditampilkan oleh Sanggar Seni Bade Mas.
I Wayan Eka Widiadi Sucipta selaku komposer 'Kenang-kunang' menjelaskan, kenang berarti tempat yang tepat, dan kunang adalah kunang-kunang sebagai gambaran manusia. Setiap kunang-kunang memiliki cahayanya sendiri begitupun manusia yang mempunyai keunggulannya tersendiri.