وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلاَهُمُ ابْنَ أَبِى عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ ، فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ ، وَصَلَّى كَصَلاَةِ أَهْلِ الْمِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ . وَقَالَ عِكْرِمَةُ أَهْلُ السَّوَادِ يَجْتَمِعُونَ فِى الْعِيدِ يُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ . وَقَالَ عَطَاءٌ إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Anas bin Malik menyuruh mantan budaknya, Ibnu Abi Uthbah yang tinggal di Zawiyah untuk menjadi imam. Beliau kumpulkan istri dan anak-anaknya, lalu mereka shalat seperti shalat yang ada di lapangan dengan jumlah takbir yang sama.
Ikrimah mengatakan, Penduduk as-Sawad mereka melaksanakan shalat id dua rakaat seperti yang dilakukan imam. Atha mengatakan, “Siapa yang ketinggalan, tidak shalat id, hendaknya shalat 2 rakaat.” (Shahih Bukhari, 4/154).
Tata caranya sama seperti shalat id, 2 rakaat dengan takbir tambahan 7 takbir di rakaat pertama dan 5 takbir di rakaat kedua.
Al-Bukhari dalam shahihnya mengatakan,
باب إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ. وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ ، وَمَنْ كَانَ فِى الْبُيُوتِ
Bab, penjelasan, apabila tidak shalat id di lapangan, maka melakukan shalat 2 rakaat. Demikian pula untuk wanita, dan mereka yang tinggal di rumah. (Shahih Bukhari, 4/154)
Demikianlah penjelasan mengenai apakah sholat Idul Fitri bisa diqadha? Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat. Wallahu a’lam.