Kisah Pemilik PO Karyajasa, Berawal dari Sales Bangunan Ditertawakan Bikin Bus Pariwisata

Muhamad Fadli Ramadan
PO Karyajasa membuka layanan yang berbeda dibandingkan PO yang sedang ramai, dan risiko kegagalannya juga sangat besar. (Foto: YouTube PerPalz TV dan Instagram)

“Terus saya meningkat, tambah bus. Akhirnya diikuti perusahaan lain, termasuk yang langsung (beli) dalam jumlah banyak, PO Sargede. Mungkin Pak Parmadi (pemilik PO Sargede) punya share dana lebih,” ujarnya.

Sebelum membuka perusahaan bus pariwisata, Wibisono sudah bergelut di bidang jasa pelayanan. Tetapi, pekerjaannya di masa lalu tak berhubungan dengan transportasi darat.

“Setelah saya lulus sekolah SMA, saya menjadi sales bahan bangunan. Lalu tugas saya berubah menjadi pengawas bangunan. Saya berhenti bekerja. Saya jadi sopir truk, terus jadi sopir bus. Tapi suplier yang lama menginginkan saya usaha di bidang bahan bangunan lagi, terus saya jadi suplier bahan bangunan sampai 1994. Saya berhenti untuk mengembangkan bus pariwisata hingga sekarang,” katanya.

Memiliki pengalaman dalam melayani konsumen saat berada di bidang bahan bangunan, Wibisono menerapkannya pada usaha bus pariwisata. Mengingat pelayanan menjadi kunci kesuksesan sebuah perusahaan otobus.

“Bagi kita standar pelaynan itu adalah kita harus pegang komitmen. Misal, saya sudah terima order Jogja-Tawangmangu yang ongkosnya kecil, tiba-tiba ada konsumen lain yang butuh Jogja-Bali selama 5 hari yang ongkosnya lebih gede, tetap saya akan ambil yang pertama. Jadi kalau pesan di kita, pasti akan dapat bus kita, bukan dari rekanan,” ucapnya.

Wibisono mengungkapkan persaingan di transportasi darat sangat ketat, sehingga tak ingin mengecewakan pelanggan. Sebab, bila meminta bantuan dari PO lain, bisa diberikan bus terburuk dengan tujuan agar konsumen kecewa.

Untuk tetap eksis di usia yang tak muda lagi, Wibisono juga tak segan belajar dari pengusaha lebih muda. Menurutnya, setiap pengusaha harus terbuka agar bisa bersaing dengan pendatang baru yang menawarkan pelayanan maksimal.

“Zaman dahulu saya dan Pak Hasan itu sering berkata anak itu harus belajar kepada orang tua untuk bisnis. Tapi, zaman sekarang sebenarnya terbalik. Jadi kalau orang tua ingin bisnisnya eksis, harus belajar ke yang muda,” katanya.

Editor : Ismet Humaedi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kemenhub Ancam Sanksi PO Bus yang Tidak Masuk Terminal

57 tahun lalu

16 Penumpang Tewas Terbakar, Begini Sejarah Lahirnya PO Bus ALS di Indonesia

57 tahun lalu

Karyawan PO Bus Kena PHK gegara Kebijakan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Larang Study Tour

57 tahun lalu

Bus Ada Kecoa dan Izin Kedaluwarsa, PO Rosalia Indah: Perizinan Sudah Terbit Sistem Belum Update

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal