“Kami di Maka Motors percaya bahwa sepeda motor listrik punya masa depan yang cerah. Produk kami, Maka Cavalry, dirancang dengan kualitas dan performa yang sesuai dengan harapan masyarakat. Terlepas dari keputusan akhir mengenai subsidi, yang krusial bagi kami dan seluruh ekosistem adalah kejelasan kebijakan subsidi. Pemerintah harus segera memberikan kepastian. Dengan adanya kejelasan, konsumen dapat membuat keputusan pembelian dengan lebih yakin, dan industri pun dapat merencanakan langkah ke depan dengan lebih baik. Menunda kepastian sama dengan menunda potensi besar pasar kendaraan listrik nasional," ujarnya.
"Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan pemerintah dapat memberikan kejelasan mengenai kelanjutan subsidi ini pada semester pertama tahun 2025, demi menjaga keberlangsungan pertumbuhan industri dan memberikan kepastian bagi konsumen,” kata Raditya Wibowo.
Maka Motors mendukung regulasi TKDN yang memajukan industri otomotif dalam negeri. R&D, SDM, serta proses produksi sepenuhnya dilakukan di Indonesia, memenuhi syarat pemerintah. Namun, wacana relaksasi TKDN dan pintu impor terbuka berpotensi menimbulkan persaingan produk murah dari luar negeri, yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
Meski produk murah import sudah tersedia, penetrasi motor listrik di Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 1 persen dari total penjualan motor lebih dari 6 juta unit. Ini membuktikan bahwa konsumen Indonesia mencari motor listrik berkualitas dengan pengalaman berkendara setara atau lebih baik motor bensin.
Ketidakpastian subsidi bukan hanya merugikan pelaku industri, tapi juga masyarakat luas. Penghematan biaya transportasi tertunda, padahal bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.
Percepatan adopsi kendaraan listrik membantu pemerintah mengurangi subsidi BBM, mendorong industri dalam negeri, dan meningkatkan daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.