Di sisi lain, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao menilai konflik di Timur Tengah juga memberikan perspektif berbeda bagi industri otomotif. Menurut dia, ketidakpastian geopolitik justru menegaskan pentingnya percepatan transisi menuju kendaraan listrik di berbagai negara.
Ketergantungan dunia terhadap energi fosil dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat sektor transportasi rentan terhadap konflik geopolitik. Karena itu, kendaraan listrik dianggap sebagai alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi berbasis minyak.
"Kami konsisten dengan strategi elektrifikasi kendaraan," katanya.
BYD menilai tren elektrifikasi kendaraan akan semakin relevan di tengah dinamika geopolitik global. Peralihan menuju energi yang lebih bersih dan stabil diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem transportasi berkelanjutan.
Sementara itu, PT Toyota-Astra Motor (TAM) masih mengambil sikap hati-hati dengan memantau situasi global. Perusahaan memilih menunggu perkembangan kondisi sebelum menentukan langkah strategis selanjutnya.
“Untuk saat ini belum ada pengaruh. Kita masih melihat perkembangan,” ujar Direktur Marketing PT Toyota-Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Meski begitu, Jap Ernando mengakui konflik geopolitik berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi global. Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya bisa merambat ke berbagai sektor industri, termasuk otomotif.
Menurutnya, stabilitas ekonomi dunia sangat berkaitan dengan permintaan kendaraan. Ketika kondisi ekonomi terganggu, daya beli masyarakat berpotensi ikut melemah sehingga memengaruhi penjualan otomotif.