JAKARTA, iNews.id – Pertumbuhan mobil listrik di seluruh dunia mulai terlihat, tapi penjualannya masih jauh dari harapan. Sebab, banyak orang masih ragu menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai karena infrastruktur kurang memadai.
Tapi, di Amerika Serikat (AS) sekitar 70 persen konsumen mulai mempertimbangkan membeli mobil listrik di masa depan. Kendati begitu, ada beberapa faktor membuat mereka mengurungkan niat memboyong mobil listrik.
Dilansir dari Carscoops, produsen mengalami kerugian dalam menjual kendaraan listrik di Amerika Serikat. Rata-rata, mereka kehilangan sekitar 6.000 dolar AS atau setara Rp95 jutaan untuk setiap mobil listrik yang mereka jual dengan harga 50.000 dolar AS (Rp790 jutaan).
Kondisi ini menuntut produsen dan pihak terkait untuk mencari solusi dalam meningkatkan minat konsumen memboyong mobil listrik. Salah satu caranya adalah menawarkan mobil listrik dengan harga lebih murah dan memiliki jarak tempuh panjang.
Penelitian BCG menemukan konsumen mobil listrik menginginkan kendaraan yang dapat diisi dayanya dalam 20 menit, menawarkan jarak tempuh 350 mil (563 km), dengan harga sekitar 50.000 dolar AS (Rp790 jutaan) atau lebih rendah.