JAKARTA, iNews.id – Menjelang mudik Lebaran, banyak masyarakat mulai mempertimbangkan jenis kendaraan yang paling sesuai untuk perjalanan ke luar kota. Dua teknologi yang kerap dibandingkan adalah mobil listrik murni (EV) dan mobil hybrid generasi baru dengan sistem Super Hybrid System (SHS).
Perbedaan mendasarnya terletak pada sumber tenaga. Di mana EV sepenuhnya mengandalkan baterai dan pengisian di SPKLU. Sementara hybrid SHS memadukan mesin bensin dan motor listrik yang bekerja otomatis sesuai kondisi jalan.
Dalam konteks mudik di Indonesia yang identik dengan jarak ratusan kilometer, kemacetan panjang, hingga keterbatasan infrastruktur pengisian daya di sejumlah jalur, fleksibilitas sistem hybrid SHS dinilai memberi rasa aman lebih bagi pengendara. Sistem ini memungkinkan kendaraan tetap melaju tanpa harus bergantung penuh pada stasiun pengisian listrik, sehingga risiko kehabisan daya di tengah perjalanan bisa ditekan.
Head of Product Jaecoo Indonesia, Ryan Ferdiean Tirto mengatakan, hybrid SHS dirancang adaptif mengikuti karakter jalan di Tanah Air. Untuk hal dalam berkendara model hybrid hampir sama dengan kendaraan bensin biasa (ICE).
“Pola kerja sistem ini secara otomatis menyesuaikan penggunaan mesin dan motor listrik. Kendaraan tetap responsif saat dibutuhkan, tetapi efisien ketika menghadapi kemacetan panjang. Ini sesuai dengan karakter mudik di Indonesia,” ujarnya, dalam talk show di IIMS 2026, Jumat (13/2/2026).
Ryan membagikan tiga pertimbangan saat memilih kendaraan hybrid untuk mudik. Pertama, sistem hybrid mampu menyesuaikan kondisi jalan tanpa pengaturan manual.
Teknologi SHS memungkinkan perpaduan tenaga berjalan otomatis, sehingga pengemudi tetap fokus berkendara. Pendekatan ini diterapkan pada model seperti Jaecoo J7 SHS-P dan Jaecoo J8 SHS-P ARDIS yang disiapkan untuk perjalanan harian maupun luar kota.