Ucapan itu bukan tanpa makna. Dakar dikenal sebagai ajang yang menguji mental hingga titik paling ekstrem. Panjang lintasan, cuaca ganas, serta rintangan tanpa ampun membuat keberanian menjadi harga mati.
“Karena dengan medan yang sangat ekstrem dan panjang, ternyata kita yang punya finansial yang kuat saja tidak cukup untuk ikut, tapi kita harus nekat dan memberanikan diri walaupun kita belum tahu akan seperti apa hasilnya,” katanya.
Meski Rally Dakar pertama kali digelar pada akhir 1978, ajang ini bukan hal asing bagi Jeje. Selama bertahun-tahun, dia mengikuti setiap denyut Dakar lewat dunia maya. Namun kali ini, ceritanya berbeda. Dia tak lagi sekadar penonton, melainkan pelaku yang siap merasakan langsung lonjakan adrenalin di tengah gurun.
“Memang Rally Dakar ini semuanya serba baru bagi saya. Mulai dari mobil yang digunakan, kemudian cuaca serta iklim yang harus dilalui. Tetapi bicara persiapannya lebih ke arah bagaimana caranya atau teknik untuk bisa mengemudikan mobil di permukaan pasir,” ujarnya.
Soal target, Jeje memilih berpijak di tanah yang realistis. Dia sadar debut di Dakar bukan panggung untuk sesumbar. Fokusnya sederhana, tetapi sarat makna.