Di sisi lain, pemain lama asal China tampil semakin percaya diri. BYD tetap menjadi magnet utama pengunjung dengan lini lengkap dari Dolphin hingga Denza serta varian terbaru Atto 3 Plus. Chery memperkenalkan teknologi Chery Super Hybrid (CSH), termasuk Chery C5 CSH yang membidik segmen hybrid menengah. Wuling mempertahankan dominasinya di segmen EV terjangkau sambil memberi kejutan lewat peluncuran SUV baru.
Peta persaingan di IIMS 2026 memperlihatkan kontras strategi antara China dan Jepang. Pabrikan China menerapkan “shock therapy” melalui kombinasi teknologi tinggi dan harga agresif. Fitur ADAS level 2+, layar infotainment besar, hingga teknologi vehicle to load telah menjadi standar. Fokus pada kendaraan listrik murni yang mendapat insentif pemerintah membuat harga banyak model berada di bawah Rp500 juta.
Sementara itu, brand Jepang seperti Toyota, Honda, Suzuki, dan Mitsubishi memilih bertahan lewat strategi hybrid dan mesin pembakaran internal (ICE). Meski digempur, pabrikan Jepang masih menguasai sekitar 78 persen pangsa pasar nasional sepanjang 2025. Jepang mengandalkan teknologi hybrid sebagai jembatan transisi, salah satunya melalui kehadiran Toyota Veloz Hybrid untuk pasar massal.
Faktor loyalitas konsumen, jaringan servis yang luas, serta nilai jual kembali tetap menjadi keunggulan utama brand Jepang. Model ICE seperti Avanza, Xpander, hingga SUV legendaris yang mendapat pembaruan masih menjadi tulang punggung volume penjualan di Indonesia.
Persepsi publik memang bergeser dari mobil murah menjadi kendaraan futuristik sarat teknologi. Namun dari sisi volume penjualan riil, brand Jepang masih sulit digoyahkan berkat kepercayaan jangka panjang konsumen serta kesiapan infrastruktur pengisian daya yang belum merata.