Senada dengan Menperin Agus Gumiwang yang mengatakan Indonesia hanya membutuhkan Lithium untuk memproduksi baterai. Namun, jumlahnya sangat kecil, yang mana masih bisa ditolerir jika harus impor untuk mendapatkannya.
“Kita punya nikel yang luar biasa banyak, sayang kalau kita tidak pergunakan. Jadi baterai itu kan ada tiga, ada yang nikel base, non-nikel base, sama cell itu yang hidrohen. Kalau nikel base benar itu harus ada lithium, tapi kebutuhan lithium secara proporsional untuk memproduksi baterai itu sekitar 3-7% yang lain-lain itu ya semuanya kita punya,” ujarnya.
Menperin Agus mengatakan bahwa pemerintah juga tak terlalu memaksakan untuk harus semuanya lokal dalam memproduksi baterai. Untuk itu, Indonesia akan berusaha mencari negara sahabat yang memiliki aset lithium melimpah.
Jadi mau nggak mau memang kita harus impor. Kita juga enggak terlalu masalah, nggak nolak impor karena memang kalau untuk bahan baku dan juga toh juga secara proporsi kecil dibandingkan nikel, mangan, dan kobalt. Jadi itu memang kita harus lakukan,” ucapnya.