Antara 2015 hingga 2023, silau disebut hanya dalam satu atau dua dari setiap 1.000 kecelakaan malam hari di berbagai negara bagian. Angka tersebut relatif stabil meskipun intensitas dan teknologi lampu depan terus meningkat dalam periode yang sama.
IIHS menyatakan bahwa persoalan utama bukan sekadar tingkat kecerahan, melainkan cahaya liar yang masuk ke mata pengemudi. Dalam banyak kasus, visibilitas yang buruk akibat lampu lama atau desain jalan yang kurang memadai justru menjadi faktor risiko yang lebih besar.
Visibilitas Lebih Baik, Kecelakaan Lebih Rendah
Menurut temuan IIHS, kendaraan dengan sistem lampu depan berperingkat tinggi justru mencatat lebih sedikit kecelakaan tunggal pada malam hari. Selain itu, jumlah tabrakan dengan pejalan kaki setelah gelap juga menurun pada kendaraan dengan pencahayaan optimal.
Fenomena silau sendiri sering kali sulit tercatat secara statistik. Pengemudi yang merasa silau kerap keluar jalur tanpa melibatkan kendaraan lain, sehingga kendaraan penyebab silau tidak tercatat dalam laporan kecelakaan.
Data juga menunjukkan bahwa silau lebih sering terjadi di jalan dua lajur tanpa pembatas, kondisi jalan basah, serta pada pengemudi berusia lanjut. Pengemudi di atas 70 tahun disebut lebih sensitif terhadap cahaya terang dibanding kelompok usia lainnya.