JAKARTA, iNews.id - Tingkat inflasi Indonesia pada April 2026 mencapai 2,42 persen (year on year). Menurut Wakil Menteri Keuangan Juda Agung hal itu berkat kebijakan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM),
Ia pun membandingkan tingkat inflasi di masa pemerintahan sebelumnya, seperti era Orde Baru yang tembus dua digit. Menurutnya, angka 2,42 persen menjadi yang rendah dalam beberapa waktu terakhir.
"Indonesia bisa tumbuh cukup tinggi dengan tidak mengorbankan pada stabilitas. Indikator stabilitas itu kan inflasi. Berapa inflasi? 2,42 persen. Itu adalah inflasi yang rendah dan stabil dalam beberapa tahun terakhir ini, mungkin dalam satu dekade," kata Juda dalam acara Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat yang dilangsungkan secara online, Kamis (7/5/2026).
Juda tidak menafikan ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah saat ini turut mengancam kestabilan harga komoditas terlebih minyak untuk BBM. Kebijakan tidak menaikkan harga BBM sampai sekarang di tengah inflasi harga minyak dunia diklaim untuk menjaga tingkat konsumsi rumah tangga.
"Subsidi BBM memang kami jaga, harga BBM-nya tidak mengalami kenaikan, supaya inflasi terjaga dan daya beli masyarakat terjaga. Itu mengapa konsumsi di kuartal satu juga masih baik, di atas lima persen. Kalau konsumsi masyarakat di atas lima, itu artinya cukup kuat," kata dia.