Era Kolonial Belanda, Pengaruh dan Penyempurnaan
Pada saat kolonial Belanda mendominasi, sejumlah kata dalam bahasa Melayu diserap ke dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Ini adalah hasil dari interaksi intensif antara bangsa Belanda dengan penduduk pribumi.
Misalnya, beberapa kata dalam bahasa Belanda, seperti "gereja" (church), "sepatu" (shoes), "sabun" (soap), "meja" (table), "bola" (ball), "bolu" (cake), dan "ventilasi" (ventilation), memiliki asal kata dalam bahasa Melayu.
Kemudian, bahasa Indonesia juga menerima pengaruh dari bahasa Arab dan Parsi yang dibawa oleh penyebaran agama Islam. Kata-kata serapan seperti "masjid" (mosque), "kalbu" (heart), "buku" (book), "kursi" (chair), "selamat" (safe), "kertas" (paper), "anggur" (grape), "cambuk" (whip), "dewan" (council), "saudagar" (merchant), "tamasya" (recreation), dan "tembakau" (tobacco) menjadi bagian integral dari bahasa Indonesia.
Selama masa penjajahan Belanda, terjadi pertukaran budaya dan linguistik yang memperkaya bahasa ini. Perluasan kosa kata dan pengaruh budaya menjadi ciri utama bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda dan Penamaan Bahasa Indonesia
Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa konstitusi pada dasarnya mengukuhkan kedudukan bahasa Indonesia di dalam republik ini, terutama saat pembacaan proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebelumya pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dikenal sebagai sumpah pemuda,menjadi salah satu peristiwa penting terkait penamaan bahasa Indonesia.
Saat ini nama “Bahasa Indonesia” digunakan untuk melawan “imperialisme bahasa” jika nama “Bahasa Melayu” masih digunakan. Akibatnya, bahasa Melayu yang digunakan di Riau dan Semenanjung Malaya menjadi bahasa Indonesia. Sejak saat itu, bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa nasional yang hidup dan berkembang.