Waktu kita kurang dari 20 tahun lagi untuk memanfaatkan bonus demografi. Bila gagal, tak ada kesempatan lagi menjadi negara maju.
Sekarang kembali lagi ke reshuffle yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Presiden seharusnya saat ini berada dalam posisi yang kuat dan memiliki otoritas penuh untuk menentukan siapa yang layak diangkat atau diganti.
Di banyak sistem presidensial, presiden selalu didukung oleh think tank yang solid. Lembaga ini secara rutin memberikan masukan first-hand kepada presiden. Orang-orangnya berpengalaman dan punya jam terbang tinggi. Dengan begitu, setiap keputusan politik selalu terukur dan berdampak.
Namun, apakah reshuffle masih bertujuan untuk uji coba atau untuk mendorong kinerja kabinet, kita tak sepenuhnya tahu.
Setelah selesai kali ini, reshuffle masih akan berlanjut hingga pemilu nanti. Reposisi dan geser sana, geser sini masih akan terjadi.
Pergeseran di partai sepertinya tidak akan banyak. Kalaupun ada rotasi, tidak akan mengurangi alokasi kursi menteri bagi partai-partai. Partai sudah lebih jauh happy dengan situasi hari ini.
Menjelang pemilu, presiden akan bertaruh lagi. Dalam sejarah politik kita, hampir selalu akan ada pecah kongsi. Itu terjadi karena kabinet kita terlalu rapuh. Koalisi dibangun melalui tawar-menawar posisi dan dukungan. Bukan ideologi dan platform, serta visi yang sama.
Bila approval rating dan keterpilihan tinggi, partai otomatis akan merapat. Sebaliknya, akan mencari kandidat lain jika situasinya tidak menguntungkan. Begitulah siklus politik kita dari pemilu ke pemilu.
Sumber: aryafernandes.com