“Data ini belum termasuk masjid-masjid di rest area jalan tol yang juga melayani pemudik dalam jumlah besar namun belum seluruhnya terhimpun. Jika seluruhnya terdata, angkanya sangat mungkin lebih besar,” katanya.
Kemenag mengapresiasi kolaborasi antara pengurus masjid, penyuluh agama, hingga KUA yang menjadi kunci suksesnya layanan ini. Program MRP diharapkan tidak hanya menjadi tren tahunan, tetapi menjadi model pelayanan berkelanjutan berbasis rumah ibadah di Indonesia.
Menariknya, aksi ramah pemudik ini tidak hanya dilakukan oleh masjid, tetapi juga diikuti oleh berbagai rumah ibadah lain seperti gereja dan vihara yang turut membuka pintu bagi para pemudik untuk beristirahat.