“Masih uang saya itu. Jangan bilang tinggal Rp200 (triliun). Nggak, masih 420. Saya tambah 100 lagi, 300, 120 masih di BI. Nanti kan pajak masuk lagi. Kita akan lihat gimana. Tapi manajemen cash-nya adalah sedemikian rupa sehingga kita tidak mengganggu supply uang di pasar,” ungkap dia.
Purbaya menjelaskan indikator moneter saat ini menunjukkan performa yang solid. Pertumbuhan uang inti (M0) yang berada di level 19 persen diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit perbankan hingga di atas 22 persen. Kondisi ini dipandang sebagai bukti bahwa aktivitas ekonomi riil terus berjalan.
Selain dari sisi efisiensi, pemerintah juga membidik tambahan pendapatan dari sektor komoditas. Saat ini, Kementerian Keuangan bersama Kementerian ESDM sedang mematangkan skema baru terkait royalti dan bea keluar untuk menangkap potensi windfall (keuntungan tak terduga) dari kenaikan harga komoditas global.
“Nanti ada perubahan skema tim teknis Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM. Mungkin besok kan mulai menjelaskan tentang bea keluar, royalti, dan lain-lain. Yang jelas itu ada potensial tambahan pendapatan yang signifikan,” pungkas Purbaya.