"Saya berpikir panjang bertafakur merenungkan kembali apakah permintaan itu saya ikuti atau tidak, dengan melakukan istikharah dan ziarah ke makam-makam para aulia," tutur Said Aqil.
Sejak kecil, pria kelahiran Cirebon, 3 Juli 1953 ini dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan menonjol. Kiai Said merupakan putra kedua dari KH Aqiel Siroj dan Nyai Hj Afifah Harun. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, ia selalu berambisi untuk memperjuangkan ajaran Islam di berbagai aspek kehidupan.
Kiai Said menempuh pendidikan dasar dengan menuntut ilmu di Madrasah Tarbiyatul Mubtadi'ien, Kempek, Cirebon. Pada umur 12 tahun, kehidupannya sebagai santri dimulai dengan masuk ke Hidayatul Mubtadi’en, Pesantren Lirboyo, Kediri.
Tidak hanya belajar ilmu agama di dalam negeri, Said juga melanjutkan pendidikannya di perguruan Islam di mancanegara. Tercatat, ia pernah menempuh pendidikan S1 di Universitas King Abdul Aziz dan lulus di tahun 1982. Setelahnya, pada 1987 hingga 1994, ia melanjutkan studi di Universitas Umm al-Qura, fokus pada bidang Perbandingan Agama di S2, serta Aqidah dan Filsafat Islam di jenjang S3.
Kehidupannya sebagai mahasiswa diwarnai dengan berbagai kegiatan organisasi keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama. Ia juga pernah menjabat sebagai sekretaris PMII Rayon Krapyak, Yogyakarta, serta mengemban amanah sebagai Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah tahun 1983-1987.