Selain itu, perusahaan juga mengantisipasi kemungkinan kenaikan biaya logistik jika konflik membuat jalur distribusi internasional terganggu. Kondisi tersebut bisa berdampak pada biaya operasional hingga harga kendaraan.
Sementara itu, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao melihat konflik di Timur Tengah dari perspektif jangka panjang. Menurut dia, situasi geopolitik justru memperkuat urgensi percepatan elektrifikasi kendaraan di dunia.
Ketidakpastian pasokan energi fosil akibat konflik dinilai menjadi pengingat pentingnya transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan. Kendaraan listrik dianggap sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi berbasis minyak.
"Kami konsisten dengan strategi elektrifikasi kendaraan," katanya.
Sebab itu, BYD menilai percepatan adopsi kendaraan listrik di berbagai negara akan semakin relevan di tengah dinamika geopolitik global. Tren elektrifikasi diyakini akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem energi yang lebih stabil dan ramah lingkungan.
Sebelumnya, PT Toyota-Astra Motor (TAM) wait and see dengan kondisi di Timur Tengah. Mereka menilai kondisi global masih sangat dinamis sehingga perusahaan memilih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil langkah strategis.