“Pompa apung yang kami kirimkan bukan sekadar simbol bantuan, tetapi alat yang bisa langsung digunakan di lapangan. Tujuannya sederhana namun penting, agar rumah warga lebih cepat kering, aktivitas harian perlahan kembali berjalan, dan beban fisik serta psikologis masyarakat dapat berkurang,” lanjut Iwan.
Pompa apung dipilih karena bersifat adaptif dan portabel, sehingga mampu menjangkau kawasan permukiman dan area padat yang tidak dapat diakses alat berat.
Selain fokus pada pemulihan fisik, KSP juga memperhatikan aspek sosial dan kemanusiaan. Bantuan sandang, perlengkapan dasar, serta mainan anak-anak disalurkan untuk membantu menjaga martabat hidup warga dan memberikan rasa aman, khususnya bagi anak-anak di tengah situasi darurat.
Menurut Iwan Eka, langkah KSP ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menekankan kehadiran negara secara nyata dengan empati dan kerja konkret, termasuk di hari libur. Hal tersebut tercermin dari kehadiran Presiden yang membersamai pengungsi di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 31 Desember 2025, serta di Aceh Tamiang pada 1 Januari 2026.
“Semangat itulah yang kami bawa ke Aceh. Negara tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi juga empati, kesadaran akan keterbatasan, serta komitmen untuk terus belajar dan beradaptasi agar proses pemulihan benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.